Masa yang Riskan

Entri-entri dalam blog ini mungkin bosan menunggu pendatang baru yang selalu dijanjikan pemiliknya. Bukan satu-dua hari saja, mungkin sudah dalam tahun. Ya, begitu lama tidak menyambangi bagian dari bukti-bukti forensik bahwa di dalam jiwa ini ada kehidupan yang hidup. Dan masih hidup.

Kali ini mulai ku tulis frasa-frasa sederhana saja yang setidaknya menggambarkan masa-masa yang akan kulewati beberapa waktu kedapan. Krusial, tetapi riskan. Sangat riskan. Riskan untuk rusak. Layaknya CPU pada Komputer, hal krusial, tetapi riskan. Ah, bodoh. Bicara soal teknologi dan pertemanannya, aku masih saja bisa bergumam. Ketololan ini masih terasa. Perasaan menyesal masih menjadi atmosfer yang melayang-layang di sekitar tubuh. Tapi, sungguh, jika tuhan memang menggariskan itu, percayalah.. sekalipun garis itu putus-putus.

Tapi, sudahlah duhai kawan. Kita tidak bisa memilih seperti apa masa lalu ini kita lewati. Tapi kita bisa merubah masa depan yang akan kita hadapi. Walaupun, secara logika sistematis, masa lalu itu bagian dari masa depan, dan tentu sebaliknya. Ya, masa lalu adalah masa depan bagi masa yang lebih lalu. Dan masa depan adalah masa lalu bagi masa yang lebih ke depan. Jadi, baiklah, kita bahas persoalaan masa yang akan datang saja.

Kelas 3 SMA. Benar-benar masa yang tinggal bagaimana kita memilih akan menjadikannya alur yang seperti apa, dramatis, melankolis, atau tragis? Semuanya serba tipis dan mengikat. Ya, saling Bergantung. Memang sangat riskan. Salah ambil langkah, lebur sudah menjadi bubur semua rancangan langkah yang dibuat sebelumnya. Tapi ketika melangkah, yang akan melangkah adalah kita sendiri, kaki yang melangkah adalah kaki kita, tapakan selanjutnya adalah pilihan kita.

Perihal salah menapakkan dan terpeleset lalu jatuh, yang merasakan hanya kita. Orang lain hanya melihat. Paling baik menenangkan dan ikut merawat. Terlebih lagi bila terkilir atau sampai salah urat. Benar-benar kita seorang saja yang tahu seperti apa pedihnya menahan air mata sakit ini menetes hanya demi martabat.

Setelah melangkah, posisi kita akan berdiri, duduk, jongkok atau tersungkur tengkurap kedepan juga kita sendiri yang tahu. Orang lain memang bisa berpendapat, tapi pendapat yang muncul dalam benak nurani kita sendirilah yang kiranya lebih tahu, akan jadi bagaimana jika kita megambil langkah yang ini atau itu. 

Misalnya, bila ketika kaki kanan kita melangkah dan sebelum menyampai tanah kaki kiri kita sudah terangkat dari tanah, itu artinya kita sedang berlari. Cepat, tapi cepat lelah pula. Dan kemungkinan jatuh lebih tinggi karena kewaspadaan kita terhadap track yang dilewati jelas berkurang. Bila kaki kanan kita melangkah dan berpijak pada tanah, baru kita mengangkat kaki kiri kita, itu artinya kita sedang berjalan. Tidak terlalu cepat memang, tapi tenaga kita tidak terforsir. Dan kita lebih was-was terhadap medan pijakkan kaki. Ya, kadang kita memang harus berjalan, tapi kita butuh berlari. 

Ketika track yang kita lewati gersang, tandus, terpapar matahari langsung yang menyengat tanpa perlindungan pohon-pohon perdu yang rindang, apakah kita harus berjalan menyimpan tenaga? Atau berlari agar cepat sampai akhir dari padang tandus itu?

Ketika track yang kita lewati asri, hijau, penuh tanaman, udaranya segar dan nikmat, pemandangannya indah, apakah kita harus berjalan sambil menikmati semua itu? Atau berlari mumpung udara dan lingkungan mendukung untuk menjaga stamina?

Intinya, sekali lagi ini benar-benar waktu yang krusial, tetapi riskan. Ingat juga ada orang yang pasti menyuplai kita sehingga punya perlengkapan yang lengkap. Ibarat perfilman nasional, merekalah produsernya. Yang mereka inginkan hanya keuntungan dari film yang bombastis dan membuat air liur hijau mereka menetes (meskipun tidak selalu). Tapi ingatlah, produser hanya membiayai. Yang membuat adalah sutradara. Mereka hanya membelikan sepatu dan kaos kaki. Yang berlari tetaplah kita sendiri. Sering memang mereka mengarahkan secara brutal. Namun, ikhlaskan. Ikuti saja garisnya.

Ikuti apa yang mereka inginkan, dan tetap lakukan apa yang hati kalian rasakan harus kalian lakukan. Diantara kedua itu, biar Tuhan yang memilih mana yang akan jadi garis hidup kalian. Atau terkadang, ada garis yang lain yang sudah Tuhan siapkan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.