Mengubah Deret yang mana?
Seorang pakar demografi bernama Thomas Robert Malthus mengemukakan sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai Teori Malthus. Yaitu bahwa kita jumlah manusia berkembang mengikuti deret geometri (hukum perkalian: 1,2,4,8,16,32 dst) dan jumlah persediaan bahan makanan berkembang mengikuti deret aritmatika (1,2,3,4,5,6 dst).
Dan ya, kian hari dua hal itu semakin terasa tak imbang. Manusia tumbuh semakin banyak mencapai 7 milyar, tapi di sana-sini kekurangan pasokan makanan terus terjadi. Artinya teori malthus benar-benar terjadi. Dan tidak mustahil bumi ini akan rusak dan tidak seimbang. Terjadi ketimpangan yang sangat berbahaya bila terjadi terus menerus. Maka solusinya agar bumi kita ini kuat bertahan untuk waktu yang lama hanya satu, mengubah deret yang ada. Antara pilihan pertama yaitu mengubah deret pertumbuhan jumlah manusia menjadi deret hitung/aritmatika, atau mengubah perkembangan persediaan makanan jadi mengikuti deret geometri.
Deret yang mana yang harus diubah?
Pilihan pertama sudah dilakukan pemerintah Indonesia melalui program Keluarga berencana dari BKKBN. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menekan angka pertumbuhan, dengan mensosialisasikan cara-cara untuk menunda/mengatur kehamilan. 4 poin inti KB adalah jangan terlalu banyak, terlalu rapat, terlalu muda dan terlalu tua. Berbagai alat dan cara sudah disosialisasikan oleh pemerintah kepada masyarakat, seperti menggunakan pil kb, suntik kb, spiral, kondom, norplant, atau teknik konvensional senggama terputus. Serta jargon andalan yang dulunya "2 anak lebih baik" dan kini menjadi "2 anak cukup" (Nah, materi ini akan kalian dapatkan kalo kalian ikutan organisasi PIK Remaja. Tapi, kalo kalian udah tahu kalian juga wajib mensosialisasikan ke teman sebaya, bisa lewat apa saja). Upaya ini sudah dilakukan pemerintah sejak tahun 1970an karena fenomena ledakan penduduk babyboom yang terjadi 1950-1960 beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Dan ini lumayan berhasil karena laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat dari tahun 1960an sampai 2,6% di tahun 1970, kini lambat laun menurun hingga menjadi 1,26% di tahun 2014 menurut data world bank.
Sementara untuk pilihan kedua, yang juga bisa diartikan menambah produksi bahan makanan kita, kaitannya adalah hubungan kita dengan alam. Semakin bertambahnya umat manusia yang ada keadaan alam, yang menjadi sumber terbesar bahan makanan manusia di bumi, semakin rusak dan keberadaanya semakin terancam. Jumlah luas kawasan hutan terus berkusang dan yang bertambah justru laju kerusakan hutan tiap tahun. Di Indonesia saja, berdasar data FAO (Food and Agricultur Organization) dibawah naungan PBB menyatakan bahwa laju deforestasi hutan indonesia mencapai 1,8juta ha/tahun (2000-2005). Dan tahukah kamu? Lembaga Rekor Dunia atau Guiness Book of The Record memberikan penghargaan kepada Indonesia sebagai negara yang laju kerusakan hutannya paling tinggi di dunia.
Jadi percuma saja apabila kita berusaha menekan pertumbuhan penduduk tetapi kekayaan alam semakin menyusut juga. Bukankah lebih enak kalau kita punya keluarga bahagia yang sudah direncanakan plus alam tempat tinggal yang menyenangkan?
Seharusnya dua pilihan itu kita lakukan semua baik mengatur laju pertumbuhan penduduk seminim mungkin serta perkembangan produksi bahan makanan sebaik mungkin, salah satunya dengan menjaga alam agar perbandingannya dengan jumlah manusia tidak timpang, bukan mengkoar-koarkan program KB tapi juga ikut mengikis hutan kita di sana. Mari, buat sisa umur kita lebih bermanfaat tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk anak cucu-kita.
Deret yang mana yang harus diubah?
![]() |
| Data bank dunia |
Pilihan pertama sudah dilakukan pemerintah Indonesia melalui program Keluarga berencana dari BKKBN. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menekan angka pertumbuhan, dengan mensosialisasikan cara-cara untuk menunda/mengatur kehamilan. 4 poin inti KB adalah jangan terlalu banyak, terlalu rapat, terlalu muda dan terlalu tua. Berbagai alat dan cara sudah disosialisasikan oleh pemerintah kepada masyarakat, seperti menggunakan pil kb, suntik kb, spiral, kondom, norplant, atau teknik konvensional senggama terputus. Serta jargon andalan yang dulunya "2 anak lebih baik" dan kini menjadi "2 anak cukup" (Nah, materi ini akan kalian dapatkan kalo kalian ikutan organisasi PIK Remaja. Tapi, kalo kalian udah tahu kalian juga wajib mensosialisasikan ke teman sebaya, bisa lewat apa saja). Upaya ini sudah dilakukan pemerintah sejak tahun 1970an karena fenomena ledakan penduduk babyboom yang terjadi 1950-1960 beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Dan ini lumayan berhasil karena laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat dari tahun 1960an sampai 2,6% di tahun 1970, kini lambat laun menurun hingga menjadi 1,26% di tahun 2014 menurut data world bank.
![]() |
| Sebaran hutan di Kalimantan |
Sementara untuk pilihan kedua, yang juga bisa diartikan menambah produksi bahan makanan kita, kaitannya adalah hubungan kita dengan alam. Semakin bertambahnya umat manusia yang ada keadaan alam, yang menjadi sumber terbesar bahan makanan manusia di bumi, semakin rusak dan keberadaanya semakin terancam. Jumlah luas kawasan hutan terus berkusang dan yang bertambah justru laju kerusakan hutan tiap tahun. Di Indonesia saja, berdasar data FAO (Food and Agricultur Organization) dibawah naungan PBB menyatakan bahwa laju deforestasi hutan indonesia mencapai 1,8juta ha/tahun (2000-2005). Dan tahukah kamu? Lembaga Rekor Dunia atau Guiness Book of The Record memberikan penghargaan kepada Indonesia sebagai negara yang laju kerusakan hutannya paling tinggi di dunia.
Jadi percuma saja apabila kita berusaha menekan pertumbuhan penduduk tetapi kekayaan alam semakin menyusut juga. Bukankah lebih enak kalau kita punya keluarga bahagia yang sudah direncanakan plus alam tempat tinggal yang menyenangkan?
![]() |
| Life goals banget uhh |
Seharusnya dua pilihan itu kita lakukan semua baik mengatur laju pertumbuhan penduduk seminim mungkin serta perkembangan produksi bahan makanan sebaik mungkin, salah satunya dengan menjaga alam agar perbandingannya dengan jumlah manusia tidak timpang, bukan mengkoar-koarkan program KB tapi juga ikut mengikis hutan kita di sana. Mari, buat sisa umur kita lebih bermanfaat tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk anak cucu-kita.



Leave a Comment