[Review] Warkop DKI Reborn Part 1: Hmmmmmmmmmm Saja.

2016 mungkin menjadi tahun paling bersejarah bagi Perfilman Nasional. Terang saja, setengah tahun pertama sudah ada AADC2 yang menggeser film hits Ayat-Ayat Cinta di posisi tiga dari daftar Box Office Indonesia sepanjang masa dengan mendapatkan lebih kurang 3,6 juta penonton. Miles Films mencapai kesuksesan Box office setelah lama kehilangan pasar, meskipun film-film hasil kerja mereka tetap maksimal dna luar biasa. Selain itu, My Stupid Boss tampil mengejutkan dengan 3 juta penonton lebih menyalip Ada Apa dengan Cinta?, dan berada di posisi ke-5 film terlaris hingga pertengahan tahun. Belum lagi film blockbuster lain seperti Rudy Habibie, Koala Kumal, Comic 8, dan film genre teen-romance seperti ILYF38KFeet dan London Love Story.

Tapi, yang paling paling mengejutkan adalah pada awla September ketika Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 melanglang-buana dan mencapai 2 juta penonton hanya dalam 4 hari. Hal ini mengalahkan rekor AADC2 yang mencapai 2 juta penonton dalam seminggu. Hm, lebih dari itu, Warkop DKI Reborn berhasil menggeser film legendaris Laskar Pelangi yang mendapat 4,5 juta penonton. Warkop DKI benar-benar menggila hingga mencapai 6,8 juta penonton dan sampai saat ini masih beredar di bioskop, yang artinya film ini bertahan hampir 2 bulan, layaknya AADC? pada 2002 dulu.


Apa yang dimiliki Warkop DKI Reborn sampai-sampai begitu dahsyatnya? Ya, tentu saja jawaban pertama yang paling umum diceletukkan orang saat sedang ditanya adalah, "penasaran". Entah penasaran akan bagaimana menghadirkan kembali Dono Kasino Indro lewat trio maut Abimana Aryasatya, Vino G Bastian, dan Tora Sudiro, ataupun penasaran bagaimana Falcon Pictures menghidupkan lagi komedi-komedi khas era-era pra-reformasi yang fenomenal pada masanya.


Actually, menurut saya unsur-unsur komedi yang dihadirkan di film ini garing, tapi saat saya menonton seluruh bioskop diramaikan gelak tawa penonton lain. Tentu saja, film ini garing atau lucu adalah relatif dan kondisional. Bergantung selera dan type humor kita sebagai penonton. Tapi totally, ketiga pemeran utama film ini membuat penonton lupa bahwa mereka sedang menonton para pemain film dua dekade 2000 hingga 2010an yang mondar-mandir masuk nominasi FFI. Penyajian karakter Dono, Indro dan Kasino sangat berhasil baik dari segi pemeranan oleh para aktor, skenario, serta elemen pendukung seperti tata rias dan kostum sangat baik. Bukti nyata dari baiknya pembawaan pemeran adalah masuknya Abimana Aryasatya dan Vino G Bastian dalam Nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2016, merupakan pemandangan langka di mana ada 2 aktor dari film yang sama bersama-sama masuk ke dalam nominasi FFI.

Menonton Warkop DKI Reborn seperti halnya menonton film Warkop DKI yang akhir-akhir ini kerap ditayangkan ulang di televisi sebagai bentuk nostalgia akan era-era lama. Komedi, yang terkadang memaksa, umpatan, musikal ala-ala film komedi, dan unsur-unsur 18+ yang juga khas pada film-film lama tidak terlewatkan, paha dada berhamburan. Yang mungkin berbeda dari film-film Warkop DKI adalah jamannya, yang membawa teknologi masuk. Latar yang dihadirkan bukanlah dekade 70-90an yang mana Jakarta lengang dan orang-orang hidup dengan kesederhanaannya. Satu yang lagi berbeda dalam film ini adalah Editing Visual Efek yang keren, terutama dalam adegan yang harus menukar wajah, yang saat ini sedang booming di aplikasi sosial media snapchat. Cukup kreatif, apik dan rapi sebagai Nominasi Penata Visual Efek Terbaik FFI 2016


Alur film ini juga terbilang ringan dan sederhana, dan nyata untuk sebuah film komedi. Tidak ada yang salah bila film komedi tidak masuk akal. Sampai alasan mengapa film ini dibuat sebagai part 1 itu sangat logis. Pemotongan ending yang tepat untuk menyambung kepada sekuel yang sengaja akan dibuat, seperti halnya film Ketika Cinta Bertasbih dan Perahu Kertas. Akankah rasa penasaran orang membuat part 2 film ini sesukses film pertamanya, seiring hilangnya rasa penasaran mereka bagaimana akting aktor-aktor muda kawakan berperan sebagai aktor senior yang sudah mereka dapatkan di part 1? 

Hanya waktu, dan penonton Indonesia yang bisa menjawab!

Overall, saya tidak mengatakan film ini tidak layak merebut gelar Box Office Indonesia sepanjang masa, tapi saya menyesal karena harus merebutnya dari film Laskar Pelangi yang menurut saya sangat epic dan legendaris.

Rates for Warkop DKI Reborn Part 1 (2017): ☆☆☆☆☆★★★★★ (6 of 10)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.