Setitik Stan
![]() |
| ?! |
Ibaratkan perjuangan mencari perkuliahan di tahun 2016 adalah garis yang panjang dalam hidup saya, PKN STAN (Politeknik Keuangan Negara - Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) adalah titik-titik yang mengisi beberapa ruas dalam garis itu. Hanyak titik. Sangat kecil dan pendek. Semua itu berjalan seperti hanya membesit, kemudian hilang.
Semua titik-titik itu dimulai pada waktu yang samar. Saya tidak ingat betul kapan. Sekitar akhir triwulan pertama tahun 2015, saya dan teman-teman saya mulai sibuk menyiapkan kepanitiaan Pensi Sekolah. Satu dari teman saya adalah adik dari lulusan terbaik jurusan Akuntansi STAN tahun 2009. Bau-bau STAN mulai tercium. Ya, sebelumnya sama sekali tidak ada aroma dari STAN yang membuat hidung saya sampai mengendus. Saya tau dan mengenal STAN sudah cukup lama. Tapi ketidak tertarikan saya pada mata pelajaran ekonomi berimbas kepadanya. Sama sekali saya tidak menaruh nama STAN dalam list kampus impian saya saat itu. Sama sekali.
Pertengahan 2015. Saya mulai sibuk dan gila dengan kegiatan Pensi itu, padahal setahun lagi, saya juga akan dibikin gila dengan kalimat mau nerusin kemana? atau daftar kemana aja?. Dalam persiapan Pensi itu, ada alumni sekolah yang sangat banyak membantu kami panitia. Termasuk kakak teman saya tadi, Mas Hanung. Serta satu lagi alumni SMA saya yang juga alumni D1 Pajak STAN BDK Makassar tahun 2003, Mas Bondan. Mereka tidak pernah absen menggambarkan kampus STAN yang digambarkab sangat 'enak'. Mungkin mereka tahu adik-adiknya setelah Pensi ini harus pusing-pusing mencari sekolah. Ya, termasuk saya, sedikit urat mulai tertarik.
Akhir 2015, selepas Pensi itu, kami yang sudah kelas akhir berhamburan. Cari kuliahan sana-sini. Sebagian besar teman-teman saya ikut berbagai macam les dari beragam rupa lembaga pembelajaran. Dan untuk saya, terasa sangat tidak tega meminta pada orang tua untuk mendaftarkan saya ke kelas-kelas tambahan semacam itu yang biayanya sangat besar. Ikhtiar yang bisa dan wajib saya lakukan hanya berdoa, dan belajar sendiri yang sering akhirnya justru bikin semakin pusing. Saya sangat takut jika saya menjadi tertinggal dibandingkan teman-teman saya di masa krusial seperti ini. Sangat takut. Apalagi saya harus mengejar sekolah ikatan dinas STIS yang pasti dihujam berentetan tes. Tidak terbayang apabila saya masih harus ikut tes STAN yang sangat tercium bau amis ekonomi, paling tidak itu yang saya kira saat itu. Entah, kenapa saya begitu tidak tertarik dengan STAN. Sebegitu entah naif atau lugu, orang tua teman saya yang juga mantan kepala sekolah SMP saya dulu, menyarankan untuk mencoba mendaftar ke STAN. Tapi saat itu saya terang-terangan menjawab dengan BIG NO. Saya mengatakan; mungkin tidak saja lah, kalau untuk STAN. Entahlah. Untungnya orang tua saya juga tidak merengek atau memaksa saya harus masuk ke STAN. Walaupun mungkin, mereka berharap. Mungkin.
Di waktu yang sama, berbagai try-out mulai digelar oleh sana-sini. Saya pikir, baiklah, bila tidak bisa ikut les, ikut tes-tes semacam ini saja, siapa tahu sedikit menolong otak saya. Tryout SBMPTN yang digelar himpunan mahasiswa Kendal dari berbagai universitas saya coba. Yah, paling tidak lumayan. Saya dapat peringkat 11 saat tryout oleh UGM dan peringkat 5 untuk tryout UNDIP. Tapi saya pikir tetap saja mustahil untuk bisa lolos SBMPTN dengan keadaan otak saya saat itu, tanpa ditambah kelas les. Selain itu, himpunan mahasiswa STAN dari Kendal, MANDAT STAN, juga mengadakan tryout. Dan saat itu juga melakukan pre-order untuk buku USM STAN. Antusiasme untuk STAN masih yang terbaik. Satu kelas saya hanya beberapa biji yang tidak ikut try-out dan hampir semuanya memborong buku. Baiklah, apa salahnya mencoba? Saya beli satu tiket try-out-nya. Hanya tiket. Padahal ibu saya menyuruh saya untuk membeli buku USM itu, tapi entah lah, sama sekali saya tidak tertarik.
Sabtu, 19 Desember 2015. H-1 try-out, saya bingung besok saya mau apa. Apa yang akan saya kerjakan. Sama sekali saya tidak tahu. Akhirnya saya coba browsing di internet. Subhanallah! ternyata soal seleksi masuk STAN terpeleset jauh dari yang saya bayangkan. Saya kira akan menghadapi soal akuntansi atau teori ekonomi. Sungguh malam itu saya merasa bodoh karena terlambat menyadarinya. Kemudian saya mencoba mengerjakan beberapa contoh soal di internet. Selain itu saya coba membaca artikel-artikel tentang kuliah di STAN lewat blog-blog yang bertebaran di dunia maya. Baik, it was not bad. Saya bodoh sekali. Cerita-cerita alumni kemudian kembali mengepul di kepala saya. Haruskah saya masukkan STAN ke top chart kampus tujuan saya? Saya pikir saya harus melewati besok dulu untuk menemukan jawaban.
Minggu, 20 Desember 2015. Saya berangkat try-out ke pendopo kabupaten tanpa pretensi sama sekali. Karena di sana juga ada stand bazaar, saya mengindahkan perintah ibu saya untuk beli buku USM. Sebelumnya saya memastikan dengan bertanya pada Mas Bondan bahwa besok saya masih bisa mendapatkan buku itu di bazaar. Peserta membludak. Yah, namanya juga STAN. Soal dibagikan, kemudian sekitar seribu orang menunduk berkutat pada pensil dan kertas di hadapan mereka. Selesai. Kemudian pengumuman nilai tertinggi. Anehnya, tiba-tiba saya merasa sangat gusar. Nilai tertinggi ketiga adalah teman SMA saya dari kelas sebelah yang sangat terkenal pandai matematika. Nilai tertinggi kedua adalah teman sekelas saya yang seorang master bahasa inggris. Ohiya, tes masuk STAN terdiri dari soal Tes Potensi Akademik atau TPA (seperti soal matematika dasar/tes IQ) dan Tes Bahasa Inggris (TBI). Sederhana memang, tapi justru dengan kesederhanaannya ini, apalagi dalam waktu pengerjaan yang sangat terbatas, semua hal bisa terjadi. Termasuk saat nama saya disebut terakhir. Merinding. Tidak menyangka. Allah memang Maha Segalanya. Saya maju ke depan, dan bersalaman dengan Mas Bondan. Dia bergidik dan memberi saya sesuatu yang tebungkus kertas coklat dengan bentuk tidak beraturan. Ya, terharu. Bingung. Kemudian saya buka kertas pembungkus itu dan saya mendapati sebuah buku USM. Ohiya! Saya baru ingat ibu saya menyuruh saya beli buku itu dan saya lupa. Masya Allah, betapa indah Allah telah mengatur semuanya dengan rapih. Sepulang dari acara try-out, saya beritahu kabar ini pada orang tua dan tentu mereka gembira. Malamnya saya meyakinkan diri, bahwa saya harus mendaftar dan diterima di STAN! Saya jatuh cinta pada STAN!
USM STIS dibuka lebih awal dari sekolah kedinasan lain. Seluruh elemen keluarga saya memberbondongi agar saya segera mendaftar. Setelah mendaftar, kementrian pemberdayaan aparatur negara mengeluarkan bahwa semua sekolah ikatan dinas akan membuka jalur masuk secara terintegrasi, satu siswa hanya bisa memilih satu sekolah. APA? Sanya terperangah panik mendengar berita ini. Saya menghubungi siapa saja yang saya kenal yang menurut saya dapat membantu saya dalam masalah paling menyeramkan ini. Saya terancam tidak bisa ikut USM PKN-STAN yang saya dambakan dan setiap detik saya pikirkan.
Tapi, Allah memang sebaik-baiknya pengatur. Siswa yang sudah mendaftar STIS lebih awal sebelum keputusan mentri keluar, justru mendapatkan kesempatan untuk memilih satu lagi sekolah ikatan dinas. Sungguh nikmat tuhan yang mana yang kamu dustakan? Tanpa menunggu satu tarikan nafas saya mendaftarkan diri ke sistem yang sudah dibentuk agar nama saya terdaftar sebagai calon mahasiswa PKN-STAN.
Minggu, 15 Mei 2016. Pagi itu saya bersama teman-teman saya naik sepeda motor ke Semarang untuk tes tahap I USM PKN-STAN. Saya datang tanpa pretensi layaknya saat try-out. Bedanya, saya punya sedikit kemantaban. Saya mengerjakan soal seperti biasa. Tidak ada perasaan yang aneh.
Selepas tes tahap 15 Mei, saya dan beberapa teman hampir setiap sore melakukan persiapan tes tahap II yaitu kesehatan dan kebugaran dengan berlari di stadion. Saya berusaha optimis dan memang satu-satunya pilihan yang saya punya saat itu adalah untuk optimis. Tidak ada alasan besar untuk menepis rasa optimis dan keyakinan untuk bisa lanjut ke tahap II, meskipun rasa berdebar tetap tak terelakkan.
Selasa, 24 Mei 2016. Sampai hampir tengah malam saya menancapkan mata melihat ke layar laptop yang menampilkan laman web milik STAN. Sampai hampir tengah malam juga, belum ada angin yang bertiup. Sampai -sampai saya ketiduran.
Rabu, 25 Mei 2016. Saya bangun sekitar jam 3 pagi. Muncul perasaan deg-degan. Saya melihat notifikasi di grup whatsapp angkatan yang sudah ramai puluhan pesan. Benar saja, mereka ribut soal hasil tes tahap I STAN. Banyak nama dari si A, B, C, sampai Z disebutkan diikuti kata lolos. Baik.., nama saya tidak ada dalam nama-nama yang secara terpisah-pisah disebutkan teman-teman saya. Kemudian saya sholat tahajud dan membuka laptop. Sangat berdebar. Apalagi setelah saya membuka file hasil pengumumannya. Lebih berdebar. Awalnya saya berniat menyusuri ratusan nama yang ada di wilayah Semarang itu satu persatu. Tapi, entahlah. Perasaan lebih berhasil menuntun tangan saya menekan tombol ctrl dan f. Kemudian tanpa lama saya mengetikkan "Budhi". Dan.. Not Found! Hasil pencarian tidak ditemukan! Saya menghela nafas yang sangat amat panjang. Satu-satunya rasa yang saya rasakan saat itu adalah gamang. Sepertinya nyawa saya sedang tidak bersama tubuh saya yang mendadak terduduk kaku di atas kasur. Sangat gamang. Saya kemudian baru menyusuri daftar nama-nama itu satu persatu. Sangat banyak nama yang saya kenal. Tapi nama yang paling saya kenal tidak muncul. Sekali lagi saya pastikan semuanya. Dan semua itu ternyata memang sudah pasti. Sekali lagi nafas panjang terhela. Tidak ada garis yang salah. Tapi setelah ini akan ada hati yang perlu ditata. Hati orang tua. Hati saya sendiri.
Namun, baiklah. Allah adalah sebaik-baiknya pengatur. Paling tidak saya sempat mengisi garis panjang itu dengan titik-titik yang luar biasa. Tapi, mungkin cukup pada titik-titik itu saja untuk STAN. Cukup sebentar itu saja. Walaupun mungkin buku catatan hadiah tryout yang ber-cover gambar kolam air mancur STAN itu masih saya bawa setiap hari ke kampus menjadi buku catatan pelajaran. Tapi, untuk memori, kenangan, dan perjuangan tentang STAN, mungkin cukup sampai kemarin saja. Terima kasih untuk orang-orang yang sudah mendekatkan saya pada STAN. Bahkan sangat dekat:) Setelah itu, saya selalu ikut begadang setiap malam pengumuman untuk tahap II dan III. Saya juga ikut senang ketika ada nama-nama teman saya yang muncul. Saya ikut terkekeh ketika mendengar kisah-kisah lucu mereka saat tes kesehatan dan kebugaran. Dan saya ikut terharu saat beberapa dari mereka benar-benar sampai di Bintaro. Selamat teman-teman! You are all great!
![]() |
Notes: Dari daftar di atas, M. Taufiq yang berada di peringkat kedua namun nilai bahasa inggrisnya tidak memenuhi passing grade nilai mati untuk benar di 20 soal itu, sekarang sudah berhasil ke D3 Pajak bersama Reno (4) dan Hamas (7). Lalu Dea (3), juga masuk ke Akuntansi bersama Anta (23). Deliar (5), Chandra (21) juga bersama teman-teman yang lain semuanya berhasil lolos sampai ke pengumuman tahap akhir. Jumlahnya mungkin sekitar 30an anak, saya kurang tahu pasti. Yang pasti, selamat untuk kalian semua ya! Semangat untuk 1 atau 3 tahun kedepan, semoga kita semua mendapatkan yang terbaik! Aamiin!


Leave a Comment