[Review] Aruna dan Dinamikanya

So let me start this review dengan beberapa judul film. Postcard from the Zoo atau Kebun Binatang? Blind Pig Who Wants to Fly atau Babi Buta yang Ingin Terbang, Someone's Wife in the Boat of Someone's Husband? So dude tiga film itu adalah film Indonesia yang sudah melanglang buana ke Cannes, hingga Berlinale. Tiga film itu juga digarap oleh sutradara yang sama, yang entah mengapa ketiganya tidak beredar secara komersil di Indonesia. Alhasil, penghargaan dalam negeri luput dari penilaian atas film-film tersebut. He is Edwin, the director behind all that films. Baru pada 2017, nama Edwin muncul di layar bioskop lewat film Posesif sebagai film koemrsial pertamanya, yang langsung membuatnya diganjar sebagai Sutradara Terbaik Piala Citra 2017. Bersama Palari Films, Edwin pelan-pelan menarik hati penonton film nasional.



Di awal semester akhir 2018, Palari Films kembali membuat cuitan tentang penggarapan film dari sebuah novel berjudul Aruna dan Lidahnya. Kali ini, Edwin menggembleng Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Nicholas Saputra dan Hannah Al-Rasjid di jajaran pemeran. You know what, masing-masing dari empat pemeran dominan di film ini mendapat nominasi masing-masing dalam Piala Citra  2018 untuk kategori Pemeran Utama dan Pendukung. Dan Nicholas Saputra dianugerahi Piala Citra untuk kategori pemeran pendukung pria terbaik. Begitu pula Aruna dan Lidahnya sendiri yang dinominasikan sebagai film terbaik.

Jadi, ini adalah ulasan saya tentang Aruna dan Lidahnya.

Aruna dan Lidahnya dibangun dari sebuah novel dengan premis cerita yang sudah unik dan menarik. Sepiring makanan, dengan taburan konspirasi. Premis ini dimanfaatkan dengan baik lewat skenario yang sangat matang. Tiap dialog yang dipilih, seperti sudah diracik dengan tepat. Gelagat komedi yang ditawarkan Edwin juga mengguncang jenaka dan tidak berlebihan sama sekali, dalam takaran yang tepat. Saya kira Edwin akan dapat satu lagi Piala Citra sutradara terbaik gara-gara hal ini. Nuansa 'film festival' olahan tangan Edwin masih bisa dirasakan, seperti saat menonton film Posesif. Hal ini yang membuat Aruna dan Lidahnya unik. Film pop yang layak tayang di festival. Dengan balutan cerita yang tidak biasa, Aruna nyaris mendekati sempurna secara modal pra-produksi. Wabah Flu Burung, makanan dan pemerintah. This is nice.

Tentu lebih dari cukup bagi Edwin untuk membuat Aruna dan Lidahnya tetap awam dinikmati kebanyakan penonton film Indonesia. Pemanfaatan momen-entah memang sudah digambarkan pada novelnya atau merupakan ide inisiatif Edwin-dalam berbagai adegan emosional juga sangat ciamik, menyentuh lebih dalam emosi penonton, untuk berfikir lebih dalam. Aruna dan Lidahnya bukan film yang didesain untuk membuat penontonnya merasa, yang kemudian menaruh target hingga bersimbah air mata. Bukan. Aruna dan Lidahnya merenggut emosi penonton untuk turut memikirkan koda dan solusi. Film ini juga sudah mengupayakan sebuah plot twist dengan susah payah, yang membuatnya sedikit kurang sedap. Kode-kode diberikan kepada penonton sedikit terlalu banyak, sehingga ketika kartu dibuka di bagian akhir film, saya yakin banyak penonton tidak dibuat terkejut. Tapi eksekusinya pada film juga tidak dapat dikatakan gagal. Metode yang ditawarkan Edwin dengan membuat Aruna berinteraksi dengan penonton seakan-akan memecah layar bioskop yang menghalangi dunia nyata dan dunia Aruna. Metode ini sulit ditemui di film-film Indonesia. Sekalipun ada, saya yakin tidak ada yang sebaik Edwin dalam Aruna dan Lidahnya. Sayangnya, ada bagian yang kurang bermakna yaitu adegan mimpi Aruna yang keberadaannya justru mengganggu proses penonton mencerna kisah film ini.

Dari segi pemeranan, Dian Sastrowardoyo is UNBEATABLE! Mbak Cintakuuuu, berhasil menampilkan Aruna dengan sangat baik. Bukan, bukan Cinta yang saya temui saat itu di bioskop. Dia adalah Aruna seutuhnya, tanpa ada sisa-sisa karakter Cinta. Dian Sastro menampilkan akting yang berkelas, dengan kekuatan ekspresi, mimik dan gestur yang tidak berlebihan sama sekali, dan memikat berkali-kali. Dian Sastro membawa nuansa baru dalam dunia pemeranan Indonesia yang akhir-akhir ini sangat monoton dan sudah lama tidak ada gencatan baru, terutama dalam genre drama.  Caranya berinteraksi ke penonton dalam adegan breaking the fourth wall, atau aktingnya menyebunyikan perasaan. Ah, semua kekuatan Dian Sastro adalah pada tiap ekspresi wajahnya, seperti yang ia coba tawarkan di AADC dan AADC2. Bila di AADC jelas menggebu dan terkesan berlebihan, sedangkan di AADC2 belum menumpukkan kepercayaan pada ekspresi sehingga terkadang penuh keragu-raguan, Dian Sastro lewat Aruna sudah berkembang pesat dalam memainkan mimik. Sayangnya, dalam FFI dan Festival Film Tempo tahun ini, dia kurang beruntung. Piala Citra 2018 jatuh pada Marsha Timoty (Marlina Pembunuh dalam Empat Babak). Sedangkan untuk FFT, Raihaanun lewat film festival 27th Step of May jelas lebih menarik. Dian Sastro kebanyakan dikalahkan oleh karakter-karakter antimainstream di layar bioskop. Padahal, justru peran Dian Sastro dalam karakter mainstreamer yang dilakonkan dengan baik dan berbeda inilah yang seharusnya diunggulkan. Ehe. Selanjutnya, Oka, Hannah dan Nico, tak ada yang tampil mengecewakan. Semuanya memerankan karakter di lingkaran utama Aruna dan Lidahnya dengan baik.

Sinematografi yang ditampilkan sangat nikmat disantap. Setting tidak biasa seperti Madura, Pontianak dan Singkawang ditampilkan begitu baik. Amalia T. S. memanfaatkan berbagai tempat terutama di Pontianak dan Singkawang untuk sebuah gambar yang cihuy. Alhasil, Aruna dan Lidahnya dianugerahi Sinematografi terbaik pada JAFF 2018. Dari teknis lainnya, penyuntingan gambar menjadi satu yang paling menarik. Warna dan nuansa yang ditawarkan Aruna begitu dinamis antarbagian dalam filmnya. Ichwandiardono berhasil merangkai setiap keping film Aruna dengan baik. Penataan musik Aruna dalam beberapa adegan sangat membantu penonton membangun suasana dan mencerna pesan yang ingin disampaikan para pembuatnya, namun di beberapa bagian juga terlalu dipaksakan sehingga fungsinya sebagai tempelan adegan ketara jelas. Cara lain yang digunakan Aruna dan Lidahnya untuk membangun suasana adalah penataan kostum yang begitu baik. Pakaian yang dikenakan empat karakter utama dalam film ini, tidak hanya memperkenalkan kepribadian masing-masing tetapi turut membangun tone dan suasana pada beberapa adegan.

Tapi keseluruhan, saya memberi apresiasi pada Palari Films untuk menghadirkan film pop yang tidak biasa. Bahkan membuat saya mengambil keputusan untuk menontonnya dua kali. Sayangnya,  jumlah penonton Aruna dan Lidahnya jauh dari yang diharapkan. Serupa kasus Galih dan Ratna atau Pendekar Tongkat Emas. This is the big problem of Indonesian film. Selera penonton kita sangat amat sulit ditebak. Padahal, bila dilihat dari proses penggarapan dan promosi, Aruna dan Lidahnya jelas sudah cukup inklusif di masyarakat.

Rates for Aruna dan Lidahnya (2018): ☆☆☆☆☆☆☆★★ (8 of 10)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.