Trotoar Monas dan Hari Setelahnya


Hari kemarin saya akhiri dengan berjalan di trotoar sekitar Monas bersama beberapa orang. Kami sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang diada-adakan. Tentu saja bisa diidentifikasi asal-muasal si pengada-ada segalanya, siapa lagi kalau bukan diri saya sendiri. Untungnya mereka manggut-manggut saja saat saya ajak mengerjakannya. Kami melakukan kebodohan yang dulu sudah pernah saya lakukan, yaitu hendak masuk ke dalam Monas lewat pintu di dekat Stasiun Gambir. Beberapa dari kami sudah dipenuhi firasat ketika melihat pintu di dekat stasiun itu sepi. Begitu bertemu petugas, benar saja, kami diarahkan ke pintu dekat istana. Yang.. artinya.. kami harus berjalan sekitar seperempat dari total keliling area Monas. Cih, cuma seperempat. Cih. I am cih-ing my self..

Kami bisa masuk area Monas-tentunya setelah berjalan sepanjang trotoar penuh keluh kesah-dan berhasil melihat lebih dekat si Monas. Langsung operasi dimulai, senjata kami keluarkan, dan ambil ancang-ancang untuk memborbardir segala yang menghalangi!! Setelah semua siap dan tinggal eksekusi, sebuah suara memecah suasana, kurang lebihi bunyinya:

Pengumuman. Diberitahukan..

Maka dengan ini mengumpatlah saya. Disusul teman-teman sekalian.

Bayangkan saja, kami belum dapat apapun yang bisa diambil. Oh mungkin ada satu, yaitu hikmah. Satu-satunya hikmah yang mungkin masih menempel sampai tulisan ini dibuat adalah: tolong pandai-pandai lah kau atur itu jadwal hei budak tidak well-planned. Kemudian kami mengais-ngais kemungkinan di trotoar sekitar pintu masuk. Ya sudahlah. Kaki pegal, tubuh sempoyongan ini rasanya ngilu melihat teman-teman saya masih semangat menjalankan apa yang saya ada-adakan. Katanya: nggak papa. Oke baiklah, mari kita habiskan hari jawab saya.

Sekitar jam dua belas malam kami mengakhiri jebakan yang kami pasang sendiri ini. Naik taksi on-line, sampai di Otista (Otto Iskandar Dinata) sekitar jam satu pagi. Satu orang tertidur di kursi dalam mobil, dibangunkan satu yang lain. Kami kemudian menuju bagian kehidupan yang selanjutnya: berisap istirahat. Saya menyempatkan membuka laptop, mengakses beberapa situs sekenanya, dan tidak sengaja tertidur dengan laptop yang masih menyala-sebuah kebiasaan, jadi tidak ada rasa bersalah yang perlu saya pertimbangkan.

Paginya, gila. Benar-benar gila. Sebuah hari yang sudah lama sekali tidak saya temui, berjabat tangan, dan menghabiskan waktu bersamanya. Hari di mana dari pagi sampai tulisan ini dibuat, saya belum mandi. Hari di mana sepanjang hari saya hanya membuka laptop untuk mengakses situs sekenanya seperti semalam-padahal biasanya laptop ini bekerja keras membuka banyak aplikasi yang berat dengan pekerjaan sok serius yang sebenarnya hanya diada-adakan pihak lain. Padahal, pekerjaan seasal-asalanpun, akan memberatkan si laptop, betul tidak?

Manusia menganggap menang situasi buruk yang lebih baik. Padahal keduanya tetap saja situasi buruk.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.