Pengendara Mobil yang Banyak Bicara
Tulisan ini ditulis setelah saya meletakkan meja belajar di atas kasur. Beserta laptop, kipas laptop, tetikus, dan uanh recehan di atasnya. Seharian ini rasanya saya terlalu banyak menyerap perihal. Tepatnya sejak semalam. Sejak saya mendapatkan salah satu hal yang mungkin menjadi hal paling mengejutkan dalam hidup saya. Sebuah benda di atas meja belajar. Tapi bukan meja belajar saya yang kecil, portable, dan pasti penuh seperangkat laptop dan kawan-kawan. Saya pikir, saya berada pada bagian yang baik-baik saja dari dunia ini. Tapi ternyata, dunia ini tidak dibagi menjadi bagian yang baik-baik saja dan tidak baik-baik saja. Dunia ini sudah diaduk rata agar kita bisa merasakan setiap bagian yang ada. Sepanjang pagi hari ini, kepala saya rasanya pusing--terutama di bagian tengah atas, belakang sampai tengkuk. Seperti mengencang. Seperti dipaksa ditarik dibenggangkan, persis karet gelang saat akan digunakan untuk membungkus nasi bungkus yang saya makan hampir setiap pagi.
Menuju siang, rasa pusing itu mungkin bukan hilang tapi hanya mengalah, karena kepala dihadapkan dengan pemikiran yang lain. Tugas. Kerjaan. Hiruk pikuk otak bekerja sana-sini. Semakin siang, bukan hanya otak. Badanpun turut bekerja. Syukurlah, sebab bila tak ada kerjaan yang satu ini bisa-bisa sekujur tubuh sepanjang hari hanya digerakkan untuk ke surau pada waktu sholat. Sisanya, untuk wudhu ke kamar mandi atau mengambil minum ke ruang tengah.
Keringat bercucuran dan nafas tersengal-tersengal mengawali dua perjalanan siang ini, karena dua tumpuk raksasa berkas-berkas milik negara. Dua perjalanan ini kemudian akan saya sebut fengan perjalanan pergi dan perjalanan pulang. Mungkin dua perjalanan ini adalah yang paling berkesan dari sekian banyak perjalanan menggunakan ojek mobil on-line. Yang pertama, adalah karena saya sendirian--dan tentu saja bersama pengemudi. Pernah mungkin sekali, ketika dulu dari rumah ke stasiun di Semarang.
Perjalanan pergi, saya dipertemukan dengan seorang bapak yang lugas, dan sepertinya ekstrovert parah. Cukup sulit mengimbangi tentunya. Tapi ternyata kami menghabiskan banyak bahan bahasan, yang seperti kata beliau, perjalanan menjadi tidak terasa. Sebenarnya saya ingin menganulir, bahwa pada kejadian seperti ini, perjalanan justru sangat terasa. Bapak ini seorang pedagang di Tanah Abang yang menyambi menjadi pengemudi ojek on-line. Beliau membagikan banyak hal, dari yang sangat penting dan krusial, sampai sesuatu yang bahkan tak perlu dibicarakan. Bapak ini terlihat pandai bergaul dari cara komunikasinya yang begitu terskturtur dan proaktif, namun kerap mengajukan klarifikasi. Baik sekali. Dia bilang pernah bekerja sebagai pekerja kantoran bagian marketing. Tentu saja. Tapi katanya, dagang adalah garis turun temurun di keluarganya. Maka enyahlah semua pekerjaan lamanya sampai menjadi sesuatu yang hanya bisa disebut pengalaman. Yang ada sekarang, katanya, hanya dirinya sebagai seorang pengusaha konveksi di Tanah Abang. Sekalipun kalimatnya tak penuh rasa kebanggaan diri, saya cukup takjub. Beliau berwawasan sangat luas--dengan membicarakan kasus Meikarta dan sistem kerja ASN--dan terlihat sukses menjalani kehidupan. Punya mobil. Sebuah standar yang sangat mendasar buat saya sendiri yang sampai saat ini masih berpikir, bagaimana bisa membeli mobil secara tunai dengan kehidupan saya beberapa tahun kedepan yang sudah berhasil saya bayangkan seadanya.
Mungkin hampir sekitar setengah jam perjalanan pergi dari Jatinegara ke Rasuna Said. Kemudian di Rasuna Said saya menjalankan amanah yaitu menjadi jembatan. Foto di awal tulisan ini adalah tempat saya menjadi jembatan di Rasuna Said. Kompleks perkantoran paling yoi yang pernah saya lihat sejauh saya di Jakarta. Kemudian waktu kosong saya isi dengan mencuri-curi malu untuk mengambil gambar. Cukup lama. Mengobrol dengan seseorang yang dikenal seseorang yang saya kenal. Kemudian melihatnya mengulurkan uang yang katanya pengganti biaya ojek tadi. Tentu saja saya terima.
Tak lama, sampai saya harus menjalani perjalanan pulang. Perjalanan pulang ini juga salah satu bagian paling keren dari hari ini. Saya kembali naik ojek mobil--yang dipesankan oleh seseorang yang tadi saya temui di Rasuna Said. Kali ini pengemudinya seorang ibu muda yang tidak terlalu muda. Tak kalah banyak bicaranya dengan pengemudi di perjalanan pergi. Tapi sama sekali tidak mengganggu. Sekalipun nadanya tinggi tipikal orang betawi ketika ngumpul, saya justru tertarik menanggapinya. Pembicaraan banyak berisi perdebatan, penyanggahan dan perbandingan. Ibu ini mungkin sama-sama luas wawasannya dengan si bapak perjalanan pergi. Diksi yang dia gunakan cukup mengagumkan. Bayangkan, dia menyimpulkan ceritanya sendiri tentang kampus anaknya--iya, saya juga cukup kaget saat tahu anak Ibu ini sudah kuliah--yang melepaskan diri dari induk semang--anjrit saya pusing sendiri tidak menemukan kata pengganti dan kenapa induk semang sih?--karena keputusan lembaga, dan beliau menyebutnya dengan: otonomi pendidikan. Keren sekali. Mungkin ada lebih banyak yang bisa diceritakan, sayangnya saya lupa.
Dari sekian banyak hal yang si bapak perjalanan peri dan ibu perjalanan pulang bahas, saya menangkap satu hal: bahwa kita dilahirkan di dunia ini dengan takdir yang luar biasa. Ingat saja bahwa kita adalah manusia yang peran kita terhadap takdir, hanya menerima. Jadi, terima saja. Sebaik yang kita bisa.
Leave a Comment