Bubur dan Rabeg Kambing
Baiklah, mari kita bersyukur dulu sebab tulisan ini saya buat hari ini, masih di hari ini. Sebab bila saya menulisnya besok, saya harus banyak-banyak menambahkan kata keterangan waktu 'hari kemarin'. Jadi, mari cepat saja, sebelum hari ini beubah menjadi hari kemarin.
Tadi pagi, sekitar jam 1 dini hari, saya dan beberapa teman baru saja membubarkan rapat tepat beberapa menit sebelum hujan. Akhirnya, saat mereka hendak pulang membuka pintu, tibalah itu hujan mengetuk pintu lebih dulu. Kami merundingkan formasi antar mengantar personel dengan melibatkan persediaan motor, mantol dan aplikasi gojek. Cukup seru. Cukup tertebak kalau akhirnya harus hujan-hujanan---meskipun pakai mantol---di tengah malam yang harusnya saya tidur nyenyak sebab nanti pagi sudah harus memenuhi janji untuk bangun di jam-jam biasanya saya belom terbangun. Ketidakterdugaan ternyata dimulai dari awal hari ini dimulai: saya bangun belum lama lewat jam 4.
Bangun dan menyiapkan diri untuk memenuhi janji, memakan waktu beberapa menit. Namun, ketiduran setelah semuanya siap ternyata menghabiskan waktu yang lebih lama alias hampir satu jam penuh. Pukul setengah tujuh, di tengah hujan deras yang turun, saya mengantre bubur di depan kontrakan sebab teman-teman saya sudah menghabiskan bubur mereka saya saya ketiduran. Iya, saya gagal memenuhi janji pada teman-teman saya untuk kumpul 5. Tapi sepertinya mereka juga gagal, meskipun kegagalan mereka tidak sebesar saya.
Payung oren dan bubur kemudian menemani perjalanan saya menerabas trotoar Otista Raya yang dipenuhi aliran air drainase yang naik ke permukaan di tengah hujan deras pagi itu. Bening kok airnya.
Akhirnya bertemulah saya dengan mereka: teman-teman saya hari ini yang sejak tempo hari sudah menyusun rencana perjalanan ke Banten Lama. Iya, siapa lagi pencetus destinasi itu kalau bukan anak yang dulu kegandrungan majalah Potret Negeriku Bobo. Saat itu SMP, dan saya membaca lamat-lamat Potret Negeriku edisi Banten. Ada bagian tentang Banten Lama. Jadi yasudah. Banten lama dan sekitarnya, kami datang.
Sebelum berangkat, kami menonton hasil editan video seadanya sepanjang 13 menit lebih dulu. Hasil dari pekerjaan sejak tahun lalu yang kami kerjakan tanpa tujuan kompetitif dan prestisius yang biasanya menjadi dasar pekerjaan semacam ini. Rasanya sudah lama sekali bekerja tanpa dasar semacam ini. Dan benar, rasanya luar biasa. Satu-satunya dasar yang kami bawa adalah kenikmatan yang kita nikmati di setiap proses yang melelahkan. Omong-omong soal kenikmatan, bersiaplah dengan bahasan lain mengenai kenikmatan mungkin di pertengahan bagian tulisan ini.
Semesta benar-benar mengantisipasi perjalanan kami hari ini dengan luar biasa. Baru sekian menit perjalanan, kami sudah ribut dengan awan mendung yang turun begitu dekat dengan bumi, menyelip di antara gedung-gedung. Dari atas mobil di atas jalan layang, kami bernorak ria mengambil memorabilia sekenanya. Ah, bukan. Sebenarnya mengambil bahan-bahan untuk film yang niatnya akan kami lahirkan lewat perjalanan hari ini. Sehingga sisa perjalanan keberangkatan, kami habiskan dengan bahasan mau buat film seperti apalagi hari ini?
Sampai kesasar dan harus melewati ruas jalan yang sama dua kali, sampai masuk tol ke arah Serang yang lancar, sampai langit cerah Serang menyambut, cerita untuk film yang akan lahir masih belom ada. Sebab cerita adalah nyawa, sepertinya film seperti yang kami harapkan tidak akan pernah lahir. Tapi tidak apa, sebab justru banyak kesadaran yang lahir. Kesadaran yang jauh lebih penting daripada film.
Katanya, rejeki itu bukan sesuatu yang kita miliki, tapi sesuatu yang kita nikmati. Tidakkah itu benar sekali? Alih-alih menikmati apa yang dipunya, manusia lebih banyak menyusun rencana atas apa saja yang hendak dimiliki. Menimpuk diri sendiri dengan kesadaran adalah sesuatu yang menyenangkan.
Kami sampai di Benteng Speelwijck dengan mudah. Ke supermarket di dekatnya, kemudian masuk ke kompleks reruntuhan benteng. Secara teknis, tak banyak yang kami lakukan di dalam. Hanya mengulang-ulang kegiatan yang sama: mengambil gambar dan banyak-banyak bercanda. Kamu terlalu banyak bercanda kalau kata Mbak Marchella. Lingkungan Benteng Speelwijck baru saja direvitalisasi. Iya, lingkungannya saja: dibangun pagar, trotoar dipenuhi lampu estetik dan gazebo serta bunga-bunga warna meencolok, dan pos satpam. Sementara si Benteng Speelwijck tetap saja Benteng Speelwijck. Tidak banyak yang lebih baik darinya. Bukan mengharap perbuahan. Hanya saja butuh sesuatu yang membuatnya lebih baik. Pemerintah hanya berusaha memeluknya, mungkin belum menggenggam ulu hatinya.
Tidak begitu lama, kami bergeser ke Masjid Agung Banten dan Keratom Surosowan ditemani beberapa lagu. Lagi-lagi kesasar. Ditambah parkiram yang sulit, akhirnya kami mencoret destinasi satu ini, padahal kami sudah ada di dalamnya. Sepintas, suasananya sama. Trotoarnya sama. Lampu, gazebo dan kursi-kursinya juga sama. Jadi paling-paling perasaan yang membekas juga sama. Akhirnya, kami langsung ke tempat warung Rabeg Haji Nawi yang katanya murah menurut Google. Katanya, Rabeg adalah makanan khas Serang. Mungkin, sebab di Jakarta kami tidak pernah dengar. Katanya Rabeg adalah olahan kambing, mendukung asumsi kami bahwa kambing adalah satwa potensial di Serang sebab di Benteng Speelwijck kami melihat seekor kambing mengacak-acak lapak warung makan. Dengan ilmu manajemen, kami membeli kombinasi menu makanan dengan efektif dsn efisien untuk meminimumkan pengeluaran. Iya, kami tau itu baik.
Setelah makan, kami mencari tempat Sholat Dhuhur. Setelah Sholat Dhuhur, kami menyadari, kalau sepertinya perjalanan hari ini bukan, diciptakan untuk melahirkan sebuah film, melainkan pengalaman. Jadi sepertiga awal kami tidur karena memang---gila, tapi ini sungguh-sungguh---ngantuk sekali. Mungkin karena jam tidur malam sebelumnya yang porak-poranda. Sementara sisa bagian perjalanan pulang, kami habiskan dengan banyak tertawa dan bernyanyi. Seru sekali. Rasanya tidak asing, tapi sudah lama tidak. Salah satu teman kami, besok selasa sudah meninggalkan Jakarta. Benar-benar meninggalkan Jakarta sebab ia sudah menyelesaikan semua yang harus diselesaikan, paling tidak sampai saat ini. Maka kami menutup perjalanan dengan lagu-lagu penuh diksi sampai jumpa. Rasanya sudah lama tidak merasakan kehilangan penuh kehangatan seperti ini.
Terima kasih untuk hari ini, semuanya. Saya merasa telah menyerap banyak hal baik hari ini.
Dan ternyata, rasa kantuk ini tidak main-main. Sebab sebelum jam 8 malam ini saya sudah tertidur, dan baru saja bangun kemudian menulis tulisan ini.
Leave a Comment