2021
Tiba-tiba sudah 2021 saja. Tiba-tiba sudah dewasa saja. Tahun ini saya berusia 23 tahun. Umur yang panjang? Tentu saja bukan. Tapi bersyukur bukan atas yang iya-iya saja--yang bukan-bukan juga bisa saja disyukuri. Saya mencintai dunia ini. Beserta ayah, ibu, keluarga, serta takdir yang dititipkan ke saya. Tapi saya lebih mencintai dunia lain yang digambarkan begitu indah oleh pemilik dunia ini--yang juga pemilik dunia lain itu. Ia memiliki segalanya. Maka beginilah saya, yang juga miliknya. Yang adalah bentuk kebaikhatiannya, memberi kesempatan, dengan takdir-takdir yang baik di dalamnya.
2020 lalu adalah tahun yang menurut saya begitu berat. Terlalu banyak hal baru yang perlu diadaptasi--yang mana saya tidak pernah pandai beradaptasi. Tapi saya menikmati setiap halnya--karena manusia hanya akan meninggalkan hal yang tak kita nikmati, tapi saya masih di sini. Tentu, secara logika manusia yang ada sekarang, awal 2021 tidak akan terlalu berbeda dengan akhir 2020, kecuali diri sendiri yang membuatnya. Dunia begitu-begitu saja:sebagian tetap menyenangkan, sisa menyedihkan.
Saya semakin sulit mengenali diri sendiri. Saya semakin sulit mengendalikan organ-organ saya sendiri. Saya semakin sulit memenuhi rencsna-rencana saya sendiri. Saya semakin sulit, tapi sepertinya dunia begitu-begitu saja. Saya masih saja jauh denganmu, dan saya belum juga menemukan pertanda bahwa akan menjadi dekat. Ini perihal yang lengkap: jarak, dan kenyataan. Saya belum berani menembus keduanya. Semoga kita masih bisa bertemu, secara fisik, tubuh dengan tubuh secara nyata. Tak harus dalam suasana yang menyenangkan, atau dalam gerak-gerik atas hati yang sama-sama berdebar. Tak harus. Tak ada yang benar-benar harus di dunia ini--kecuali manusia yang membuatnya--selain membaca baik-baik yang kata-kata yang ditulis dalam Quran, menyelami setiap rima dan diksinya.
Saya masih di sini, paling tidak hari ini.
Leave a Comment